Halaman

Senin, 26 November 2012

Karakteristik Remaja

Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139). Berikut ini akan dijelaskan mengenai hubungan remaja dengan teman sebaya dan orang tua:

1)      Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2003: 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.
Ada beberapa beberapa strategi yang tepat untuk mencari teman menurut Santrock (2003: 206) yaitu :
a)      Menciptakan interaksi sosial yang baik dari mulai
          menanyakan nama, usia, dan aktivitas favorit.
b)      Bersikap menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
c)      Tingkah laku yang prososial seperti jujur, murah hati
          dan mau bekerja sama.
d)      Menghargai diri sendiri dan orang lain.
e)       Menyediakan dukungan sosial seperti memberikan  
          pertolongan, nasihat, duduk berdekatan, berada dalam 
          kelompok yang sama dan menguatkan satu sama lain 
          dengan memberikan pujian.

Ada beberapa dampak apabila terjadi penolakan pada teman sebaya. Menurut Hurlock (2000: 307) dampak negatif dari penolakan tersebut adalah :
a)      Akan merasa kesepian karena kebutuhan social mereka
          tidak terpenuhi.
b)      Anak merasa tidak bahagia dan tidak aman.
c)      Anak mengembangkan konsep diri yang tidak
         menyenangkan, yang dapat menimbulkan
         penyimpangan kepribadian.
d)     Kurang mmemiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan
         untuk menjalani proses sosialisasi.
e)      Akan merasa sangat sedih karena tidak memperoleh
          kegembiraan yang dimiliki teman sebaya mereka.
f)       Sering mencoba memaksakan diri untuk memasuki
          kelompok dan ini akan meningkatkan penolakan
          kelompok terhadap mereka semakin memperkecil 
          peluang mereka untuk mempelajari berbagai
          keterampilan sosial.
g)      Akan hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi social 
          terhadap mereka, dan ini akan
          menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
h)      Sering melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, 
         dengan harapan akan meningkatkan penerimaan sosial 
         mereka.

Sementara itu, Hurlock (2000: 298) menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang diperoleh jika seorang anak dapat diterima dengan baik. Manfaat tersebut yaitu:
a)      Merasa senang dan aman.
b)      Mengembangkan konsep diri menyenangkan karena
          orang lain mengakui mereka.

c)      Memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai pola 
          prilaku yang diterima secara sosial dan keterampilan 
          sosial yang membantu kesinambungan mereka dalam 
          situasi sosial.
d)     Secara mental bebas untuk mengalihkan perhatian 
         meraka ke luar dan untuk menaruh minat
         pada orang atau sesuatu di luar diri mereka.
e)     Menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok dan 
         tidak mencemooh tradisi sosial.

2)      Hubungan dengan Orang Tua
Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal  adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi dengan orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh Santrock, (2002: 24) yaitu : 
1) menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan konflik. 2) Mencoba mencapai suatu pemahaman timbale balik. 
3) Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming). 
4) Mencoba bersepakat tentang satu atau lebih pemecahan 
     masalah. 
5) Menulis kesepakatan. 
6) Menetapkan waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar